Saturday, May 2, 2009

The Future of Management


Category : Books
Genre : Business & Investing
Author : Gary Hamel

Bayangkan sebuah perusahaan dimana kinerja karyawan ditentukan oleh rekan-rekan sejawatnya, sebuah perusahaan dimana tekanan pekerjaan justru datang dari rekan sejawat. Sebuah perusahaan yang terdiri dari tim-tim kecil yang saling bersaing satu sama lain untuk bisa menghasilkan profit terbesar bagi perusahaannya. Sebuah perusahaan yang menerapkan prinsip transparansi untuk kompensasi bagi karyawannya.

Dan bagaimana bila dikatakan bahwa perusahaan ini menghasilkan sales hingga $ 6 trilyun setahun dan mengoperasikan hingga 194 toko. Selama 15 tahun dari semenjak IPO di 1992, perusahaan ini telah mengalami kenaikan nilai saham hingga 3000 persen. Ia disebut sebagai perusahaan retail makanan Amerika paling menguntungkan bila diukur dengan profit per meter persegi. Namanya adalah Whole Foods Market, retail makanan organik terkemuka di Amerika.

Ada juga cerita soal perusahaan manufaktur mobil di Amerika yang membutuhkan waktu hingga 20 tahun untuk menyadari apa yang membuat Toyota menjadi perusahaan yang memiliki sistem manufaktur yang hyperefficient. Kisah dimulai dari 20 tahun lalu, dimana mereka mencoba mengirimkan karyawan mereka untuk belajar secara langsung dari Toyota di Jepang. Setelah laporan dikeluarkan, mereka malah tidak mau mempercayai bahwa ada perusahaan yang mampu untuk menghasilkan produk dengan tingkat defects (cacat) yang sangat kecil. Butuh waktu 5 tahun sehingga mereka menyadari bahwa Toyota memang unggul dari mereka.

5 tahun berikutnya mereka habiskan dengan beralasan bahwa Toyota bisa seperti itu karena kultur masyarakat Jepang yang khas. Akan tetapi, begitu Toyota berhasil memindahkan operasi perusahaannya ke Amerika dengan level yang sama dengan menggunakan karyawan dari AS, maka mereka pun kembali terdiam. 5 tahun berikutnya mereka habiskan dengan mempelajari sistem operasi Toyota secara lebih detail. Hanya saja, walaupun kemudian mereka telah berusaha untuk mencontek sistem ini, tetap saja mereka tidak bisa menyamai level yang telah diperoleh Toyota. Baru di 5 tahun setelahnya, mereka menyadari bahwa kesuksesan Toyota adalah akibat prinsip-prinsip organisasi yang dipunyainya – Toyota memiliki kemampuan continous improvement dengan mengandalkan karyawan2 yang dipunyainya sebagai ujung tombak pemecah masalah. Makanya sistem produksinya dikenal dengan nama ”Thinking people system.”

Kutipan cerita itu semua adalah kutipan yang diambil dari buku terbaru Gary Hamel, Future of Management. Gary Hamel yang terkenal dengan bukunya ”Leading the Revolution” ini bisa dikatakan pakarnya inovasi manajemen. Bahkan buku ini disebut oleh editor di Amazon.com sebagai buku bisnis terbaik 2007.

Secara umum, buku ini terbagi menjadi 4 bagian. Bagian pertama, Why Management Innovation Matters, adalah inti ide dari Hamel. Bagian kedua, Management Innovation in Action, sarat dengan contoh-contoh inspiratif akan inovasi manajemen. Kita bisa dapati kasus Whole Foods Market seperti di atas, juga ada kasus W.L Gore&Associates, yang menggunakan istilah leader ketimbang bos, dan juga kasus Google, yang punya formula 70-20-10, artinya 70% untuk urusan layanan basis bisnis, 20% untuk pengembangan layanan dan 10% untuk berbagai layanan.

Bagian ketiga, Imaging the future of management, mengajak pembacanya untuk berpikir aspek manajemen mana yang harus kita pikirkan ulang. Bagian terakhir, Building the future of management, berisikan tuntunan praktis sebagai panduan untuk berinovasi dalam manajemen.

Ide-ide yang ada di buku ini memang sangat inspiratif. Ketika banyak orang mengatakan business model adalah yang paling penting, maka Gary mengatakan bahwa itu saja tidak cukup. Di atas inovasi business model, dan juga inovasi produk/jasa serta operational, adalah inovasi dari sisi manajemen.

Secara umum, buku ini sangat worth to read, baik oleh akademisi maupun praktisi bisnis. Isinya memang lebih berat dibandingkan buku Gary sebelumnya, Leading The Revolution, yang lebih kaya akan contoh-contoh praktis. Yah, bisa jadi nantinya future of management bukan lagi hanya berkiblat pada dunia barat. Siapa tahu Indonesia nantinya bisa jadi sumber dari masa depan itu...:)

Gud luck for the reading...

A Class With Drucker


Category : Books
Genre : Business & Investing
Author : William A. Cohen, PhD


Bisa dikatakan “A Class with Drucker” adalah buku yang dinanti-nanti oleh semua mahasiswa bisnis paruh waktu di dunia. Di dalamnya diceritakan materi-materi yang dibahas dalam perkuliahan kelas malam yang kebetulan sedang digeluti oleh penulisnya dan dengan lincahnya dikaitkan dengan praktek bisnis nyata di lapangan. Benar-benar sebuah masterpiece dari seorang William A. Cohen, PhD.

Coba kita lihat sebagian isinya.

Salah satu tips dari Drucker adalah bertanya. Jack Welch sendiri mengakui bahwa GE bisa tumbuh dari nilai pasar 12 milliar dollar pada 1981 menjadi 25 kali lipatnya saat ia keluar, salah satunya dipicu oleh 2 pertanyaan dari Drucker. Pertanyaannya adalah, ”Jika Anda belum siap di dunia bisnis, maukah Anda masuk ke dalamnya hari ini?”. Dan lalu diikuti dengan pertanyaan kedua yang lebih sulit, ”Lalu apa yang akan Anda lakukan?” Menurut Welch, pertanyaan-pertanyaan dari Drucker membuat dia kemudian melepaskan bisnis yang tidak menguntungkan dan melangsingkan GE hingga mencapai sukses luar biasa.

Drucker berkata seperti ini ketika ditanya tentang rahasia kesuksesan dirinya, ”Tidak ada rahasia. Anda hanya perlu mengajukan pertanyaan yang tepat. Ketidaktahuan itu bukan hal yang buruk jika kita tahu cara menggunakannya. Anda harus sering-sering melakukan pendekatan terhadap masalah dengan ketidaktahuan Anda, bukan apa yang Anda anggap Anda ketahui dari pengalaman masa lalu, karena tidak jarang, apa yang Anda anggap Anda ketahui ternyata salah.”

Salah satu saran Drucker yang lain adalah kuasai keahlian lain di luar bidang Anda untuk bisa menjadi pemimpin strategis. Salah satu medianya, adalah membaca, tidak cuman membaca aspek-aspek yang terkait dengan bisnis atau spesialisasi, akan tetapi juga membaca aspek-aspek di luar itu, mungkin olahraga, agama, politik, atau sastra. Selain itu, juga berinteraksi aktif dalam diskusi-diskusi dalam aspek-aspek itu.

Next, adalah menuliskannya. Menulis akan sangat susah dilakukan di awal. Namun seperti kata pepatah lama, Anda tidak akan benar-benar memahami sesuatu kecuali Anda menuliskannya. Well, jadi ingat sebenarnya sudah sekitar 2 bulanan blog ini tidak pernah diisi kembali. Saat ingin memulai lagi untuk mengisi blog ini jujur rasanya sulit sekali. Begitu dicoba, mulai terasa lagi unsur kakunya. Belum ada alur yang jelas antara premis, pertanyaan, pernyataan, bukti pendukung dan diakhiri dengan penutup premis. Segala sesuatunya mengalir apa adanya. Saya tidak ingin terpaku dengan gaya-gaya tertentu. Yah, jalani sajalah dulu.

Break From The Pack


Category : Books
Genre : Business & Investing
Author : Oren Harari


Colin Powell pernah mengatakan, “Pilih pertempuran Anda dengan sangat selektif, kemudian masuklah dengan kekuatan yang berlimpah.”

Kutipan ini saya ambil dari buku terbarunya Oren Harari, “Break from the Pack”. Isinya menceritakan tentang strategi bersaing perusahaan di tengah ekonomi peniruan yang ada saat ini. Isinya sangat berbobot, kombinasi yang cukup pas antara dunia intelektual dan praktis.
Namun saat ini, saya hanya ingin membahas aspek praktisnya saja.

Kalimat Colin Powell di atas menjadi pengantar dari Oren Harari ketika membahas tentang strategi untuk keluar dari kerumunan. Bentar...sebelum lanjut...sebetulnya kerumunan itu apa sih? Kerumunan adalah produk rata-rata. Contoh, dulu sebelum HP mulai booming, yang namanya counter HP jumlahnya sedikit sekali. Tapi sekarang bisa dikatakan setiap jarak 100 m kita sudah bisa mendapati ada 1 counter HP yang berdiri disana. Counter-counter HP itu adalah kerumunan, dan hanya counter HP yang bisa memberikan nilai lebih kepada konsumenlah yang akan bertahan keluar dari kerumunan.

Ok, intinya adalah kalimat dari Colin Powell ini merujuk pada pemilihan lahan bisnis yang selektif dan all out dalam menjalaninya. Masuk ke contoh kasus. Di AS, Whole Foods Market senilai $ 5 Milliar versus Kroger bernilai $ 60 Milliar. Ternyata Return on Asset-nya Whole Foods 70 kali lipat dari Kroger, sementara margin keuntungannya lebih besar 6 kali lipat. Mengapa perusahaan yang nilainya jauh dari Kroger bisa mendatangkan angka profitabilitas yang lebih tinggi? Whole Foods berfokus pada makanan alami. Kroger memang juga masuk di pasar ini, tetapi seluruh brand, keahlian, inovasi dan rantai makanan serta skala Kroger dibangun di sekitar segmen pasar ini. Ruang lingkupnya menjangkau sampai setiap perkebunan dan persiapan dari segala sesuatu dari mulai sayur-sayuran sampai ayam untuk memastikan bahwa label alami dan organik adalah autentik dan bukan sebagai cara dari pemasaran.

Contoh lain, Jet Blue dengan nilai $ 1,6 Milyar mengalahkan United Airlines dengan nilai $ 16,6 Milyar. Jet Blue berfokus pada rute yang dipilih dengan hati-hati dengan potensi keuntungan, perjalanan langsung dari titik ke titik, pesawat baru yang memerlukan sedikit perawatan, kompensasi dengan upah lebih rendah cuman dengan kepemilikan saham, kepemimpinan secara langsung (eksekutif bekerja di atas pesawat untuk dapat tetap bersentuhan dengan bisnis), karyawan yang tidak bergabung dengan serikat pekerja dan dapat melakukan berbagai macam pekerjaan, produktivitas tinggi, efisiensi dengan 70% tiket terjual via website, dan agen pemasaran yang bisa bekerja dari rumah. Efeknya sementara pertumbuhan Jet Blue mencapai 33% dalam setahun, United Airlines mengalami kerugian tahunan multimilliar dollar di tahun 2006.

Contoh kasus dalam negeri, Rumah Video. Secara terus terang, Rumah Video sempat keluar dari fokus awalnya, video. Contohnya RV sempat bermain-main di ranah website yang sebetulnya belum menjadi kompetensinya. Memang tawarannya menarik, demandnya juga besar, hanya saja untuk fase awalan, hal ini mengaburkan fokus dan konsentrasi, dan lumayan menyita waktu dan tenaga. Makanya dalam evaluasi tengah tahun kemarin, Rumah Video bertekad untuk kembali ke khittahnya, dengan kembali ke jalur per-video-an, terutama video dokumentasi dan video profile.

Ok, satu lagi aspek menarik yang ingin diceritakan dari buku ini adalah tips berikutnya, satukan tiap bagian untuk meraih tujuan puncak. Apa tujuan puncak dari suatu perusahaan berdiri? Mencari keuntungan sebesar-besarnya, menjadi pemimpin dalam industri, membangun sebuah reputasi handal. Setiap perusahaan seharusnya mempunyai tujuan yang lebih besar dari itu, yang dengan tujuan itu perusahaan mampu untuk memotivasi karyawannya untuk memberikan yang terbaik dalam aktivitas operasionalnya.

Ingat dengan slogan Microsoft, komputer dalam setiap rumah tangga. Dulu hal ini sesuatu yang masih dianggap muskil, bahkan oleh IBM sekalipun yang masih menganggap bahwa masa depan komputer adalah mainframe yang ukurannya besar, harganya mahal dan hanya digunakan oleh lingkungan perkantoran. Tapi lihat sekarang?

Coba lihat beberapa tujuan tertinggi produk/perusahaan berikut.
- Jamba Juice --> ”Untuk membantu kita hidup lebih sehat dan lebih seimbang, kehidupan yang lebih natural, dan kehidupan yang lebih bermanfaat.”
- Google --> ”Memanfaatkan, mengatur dan mengategorikan semua informasi di planet, sehingga setiap orang dapat dengan mudah mengaksesnya untuk kebutuhan yang unik dengan medium apa pun yang kita pilih, baik teks, audio maupun video.”
- Procter and Gamble --> ”Membantu orang-orang memecahkan setiap masalah yang ada di rumah.”
- TiVo --> “membebaskan waktu dan tenaga orang dengan memberi orang-orang pengendalian total melalui penglihatan mereka.”
- Starbucks --> “Menciptakan suatu tempat mengungsi bagi semua orang, tempat mereka dapat melarikan diri dari kemalangan dan kesengsaraan akibat kekacauan di dunia luar, suatu tempat yang aman dan tenang sehingga menjadi tempat ketiga bagi customer untuk menghabiskan waktu.”
- FedEx --> “Memberikan suatu rasa aman bagi masyarakat bahwa dokumen mereka akan dikirimkan pada orang tertentu pada hari berikutnya.”
- Cirque du Soleil --> “Menyalakan kembali emosi dan kepekaan orang dewasa dengan cara yang pernah mereka alami di masa kecil, tetapi tidak pernah mereka bayangkan terjadi di usia dewasa.”
- IKEA --> “Memberikan kehidupan sehari-hari yang lebih diperkaya dan lebih berkelas pada orang biasa.”
- Petakumpet --> (diambil dari bukunya Mas Arief Budiman, Jualan Ide Segar) à ”Menikmati hidup yang luar biasa dengan terus menciptakan ide hebat.”
- Rumah Video --> Pilih option berikut.
o Menjadi perusahaan media audio visual yang profesional dan terkemuka di Jakarta, atau
o Memberikan kenikmatan yang luar biasa bagi masyarakat dan emosional yang sentimentil ketika menyaksikan cuplikan perjalanan hidup mereka tersaji di depan mata mereka, atau
o ………………………………. (monggo idenya……..)

The Power of Positive No


Category : Books
Genre : Health, Mind & Body
Author : William Ury

“Seni kepemimpinan adalah bukan tentang mengatakan YA, namun tentang mengatakan TIDAK.” Tony Blair, ExPM Inggris.

Ketika Anda tiba di tempat kerja, bos Anda meminta Anda untuk lembur sepanjang akhir pekan untuk sebuah tugas penting. Padahal, ini adalah akhir pekan yang telah dinanti-nantikan Anda dan keluarga Anda. Tetapi, yang meminta adalah bos, dan tinjauan untuk promosi Anda akan segera dilakukan. Bagaimana Anda dapat mengatakan TIDAK tanpa merusak hubungan Anda dengan bos Anda dan mengacaukan promosi Anda?

Seorang pelanggan utama menelpon dan meminta Anda untuk mengirimkan produk tiga minggu sebelum jadwal. Biasanya, hal ini akan sangat stressful dan kemungkinan besar, kualitas produk akan turun. Tetapi, dia adalah pelanggan utama Anda dan dia mungkin tidak akan menerima jawaban TIDAK. Bagaimana Anda dapat mengatakan TIDAK tanpa merusak hubungan dengan pelanggan?

Buku yang sedang saya baca kali ini isinya sangat provokatif. The power of positive No. Kalau selama ini, orang seringkali berasumsi bahwa kunci dari melakukan semua hal dengan baik ialah selalu mengatakan YA dengan kepercayaan diri yang tinggi, buku ini mencoba untuk mengobrak-abrik pemahaman ini. Tidak setiap hal mesti disikapi dengan kata YA.

YA mungkin akan membuat kita menjadi orang yang super. Menjadi orang yang mampu melakukan apa pun yang diharapkan orang lain dari kita. Akan tetapi, problem yang ada waktu yang kita miliki terbatas, 24 jam sehari, yang harus kita bagi juga dengan waktu kita untuk beristirahat. Makanya, kemampuan untuk mengatakan TIDAK otomatis haruslah kita miliki, terutama dalam rangka mempertahankan kepentingan kita yang paling UTAMA.

William Ury, sang pengarang buku ini, sebelumnya sempat mengarang juga buku Getting To Yes, sebuah buku tentang seni bernegosiasi. Tingkat kehandalannya sendiri sudah tidak perlu diragukan lagi. Ini bisa kita lihat salah satunya dari endorser-endorser yang diterimanya, mulai dari Jim Collins, Jimmy Carter, Anthony Robbins, Daniel Goleman, Stephen Covey, John Naisbitt, Linda Kaplan hingga Tom Peters.

At the end, happy reading.

Ketika Cinta Bertasbih


Category : Books
Genre : Literature & Fiction
Author : Habiburrahman El Shirazy

Ini adalah karya terbaru dari sang penulis novel bestseller, Ayat-Ayat Cinta (AAC), Habiburrahman El Shirazy.
Berbeda dari karya-karya sebelumnya, di sini Kang Abik membagi novelnya menjadi 2 buku, yang disebutnya sebagai dwilogi pembangun jiwa. Yah, tidak jauh berbeda dengan AAC yang disebut Kang Abik sebagai sebuah novel pembangun jiwa, di buku ini kembali kita disuguhkan dengan kepiawaian sang pengarang dalam memadukan keromantisan cinta dan keindahan Islam. Selain itu, yang menambah menarik buku ini ialah adanya penggambaran akan kegigihan seorang manusia di dalam menuntut ilmu dan sekaligus berwirausaha.

Yup, wirausaha. Ini akhirnya jadi salah satu pembeda novel ini dari novel-novel Kang Abik sebelumnya. Prof. Laode M. Kamaludduin, PhD, dalam resensinya bahkan menyebut dwilogi ini sebagai “karya sastra berbasis entrepreneurship”. Sosok Khairul Azzam yang menjadi sentral cerita adalah sosok mahasiswa Al Azhar yang selain berkuliah juga berbisnis jualan bakso dan tempe di Mesir, yang dilakukannya untuk bisa menghidupi ibu dan 3 adiknya yang ada di Indonesia. Bahkan, selepas kuliah, di Indonesia selain mengajar di pesantren, ia akhirnya memutuskan untuk merintis bisnis bakso dan fotokopi, tanpa mengindahkan cibiran orang lain yang menganggap hal itu tidak pantas dilakukan oleh seorang lulusan luar negeri.

Secara garis besar, novel ini menceritakan tentang perjalanan hidup Azzam, 28 tahun, yang disebutkan dalam kurun waktu 9 tahun masih belum juga mampu menyelesaikan pendidikan S1-nya di Al Azhar. Sebenarnya hal ini dilakukan oleh Azzam bukan tanpa maksud dan bukan pula karena ketidakmampuannya, hanya saja hal ini terpaksa ia lakukan karena ia masih harus menghidupi ibu dan 3 adiknya yang tinggal di Indonesia dengan cara berjualan tempe dan bakso di kalangan warga Indonesia di Kairo. Sosok yang di tahun pertamanya di Al Azhar memperoleh predikat Jayyid Jiddan (istimewa) ini sengaja tidak meluluskan dirinya selama 9 tahun serta sengaja menunda untuk menikah sampai paling tidak salah satu adiknya bisa lulus dari kuliahnya dan sudah bisa mencari nafkah sendiri.

Kegigihannya dalam berusaha ini akhirnya terbukti mampu mengorbitkan ketiga adiknya itu. Adiknya yang pertama, Husna, sukses lulus sebagai psikolog dan mampu menjadi salah satu penulis terbaik nasional. Adiknya yang kedua, Lia, sukses lulus PGSD dan menjadi guru favorit di SDIT Al Kautsar Solo. Sementara adiknya yang masih berusia 9 tahun, Sarah, masih menyantren di Pesantren Kudus, dan saat itu sudah berhasil menghafal hingga 5 juz.

Selain Azzam, di novel ini Kang Abik menampilkan beberapa sosok lain dengan karakternya yang kuat. Ada Eliana, bintang film cemerlang lulusan Perancis yang pernah berdebat dengan Sekjen Liga Arab dengan bahasa Inggris, yang digambarkan sempat ingin menghadiahkan “French Kiss” kepada Azzam. Ada Anna Althafunnisa, putri pengasuh ponpes di Klaten, mahasiswi S2 Syariah, sosok yang pertama kali coba dilamar oleh Azzam. Ada Furqan, mantan Ketua Umum PPMI dan kandidat MA dari Cairo University, sahabat Azzam, yang disebutkan telah melamar Anna, akan tetapi selepas 3 bulan masih belum juga mendapatkan jawaban. Selain itu, ada juga beberapa sahabat-sahabat Azzam di Kairo, seperti Fadhil, Hafez, Ali dan Nanang, yang muncul dengan permasalahannya masing-masing.

Dibandingkan Ayat-Ayat Cinta, novel Ketika Cinta Bertasbih ini memiliki jalinan cerita yang lebih kompleks, dengan permasalahan-permasalahan yang bertebaran di 2 latar berbeda, Mesir dan Indonesia. Bila buku pertama menceritakan kehidupan Azzam di Mesir, maka di buku kedua, pusat cerita akan berpindah ke Desa Sraten, Solo, kampung halaman Azzam serta Desa Wangen, Klaten, kampung halaman Anna. Penggambaran ceritanya khas Kang Abik, tema cinta dengan sedikit bumbu konspirasi di Mesir. Di salah satu frame cerita, bahkan sosok Furqan sempat berurusan dengan salah satu agen Mossad, Israel. Urusan inilah yang kemudian hari benar-benar mengubah akhir cerita dari Dwilogi ini secara dramatis, dan mungkin untuk beberapa pembacanya, akan menimbulkan kesan tidak adil untuk salah seorang tokohnya.

Walaupun tema sentralnya tetap tentang cinta, banyak kutipan-kutipan pemberi motivasi yang muncul di novel ini. Salah satunya ialah kutipan nasehat dari seorang Syaikh dalam sebuah Khutbah Jumat, “Kenapa Allah mengaruniakan kepada kita dua tangan, dua kaki, dua mata, dua telinga, jutaan syaraf otak, tapi hanya mengaruniakan kita satu mulut saja? Jawabnya, karena Allah menginginkan kita untuk lebih banyak bekerja, daripada bicara. Orang-orang besar sepanjang sejarah adalah mereka yang lebih banyak bekerja daripada bicara!”

Atau kutipan yang muncul di penutup novel, sebuah ceramah Azzam kepada jamaah pesantren, ”Orang-orang yang dulu hidup memprihatinkan ternyata sampai sekarang tidak berubah. Kenapa tidak berubah? Jawabnya karena mereka tidak mau berubah. Kenapa tidak mau berubah? Jawabnya karena mereka tidak tahu bahwa mereka harus berubah. Bahkan kalau mereka tahu mereka harus berubah, mereka tidak tahu bagaimana caranya berubah. Sebab mereka telah terbiasa hidup pasrah. Hidup tanpa rasa berdaya dalam keluh kesah.”

Selamat membaca.

Whatever you think, think the opposite


Category : Books
Genre : Health, Mind & Body
Author : Paul Arden


Ketika merenungkan hidup Anda, ada hal-hal yang akan Anda sesali.
Anda telah mengambil keputusan yang salah.

Salah.
Anda telah mengambil keputusan yang benar.

Hidup adalah tentang mengambil keputusan.
1. Apakah saya seharusnya kuliah atau bekerja?
2. Apakah saya menikah saat ini atau menundanya?
3. Apakah saya akan minum anggur, air atau teh?

Apapun keputusan yang Anda ambil, itulah satu-satunya keputusan yang dapat Anda ambil.

Jika tidak, Anda akan mengambil keputusan yang lain.
Apapun yang kita lakukan, kitalah yang memilih.
Jadi, apa yang harus disesali?

“You are the person you chose to be.”

Kutipan ini saya ambil dari buku terbarunya Paul Arden, seorang legenda dalam dunia periklanan di Inggris. . Membacanya ringan, karena bahasanya simple, penuh ilustrasi dan inspiratif.

Simak beberapa kutipan-kutipan dari buku ini.

“Old Golfers don’t win (it’s not an absolute, it’s a general rule).”
Intinya, pengetahuan membuat kita main aman. Pernah melakukan kesalahan akan membuat seseorang menjadi lebih hati-hati, bahkan mungkin terlalu hati-hati (Don’t, know how it feels till now). Rahasianya, adalah dengan tetap berjiwa kekanak-kanakan.

”Instead of waiting for perfection, run with what you’ve got, and fix it as you go.”
Intinya, kerjakan lalu perbaiki sambil jalanan. Teguran keras neh untuk urusan website yang lama ga dikelarin kemarin.

Dan masih banyak inspirasi lainnya dari buku ini.

Kutipan terakhir dari buku ini, “This is not the end. It is a new beginning.”

Happy reading.

Laskar Pelangi


Category : Books
Genre : Literature & Fiction
Author : Andrea Hirata

Bicara masalah hidup, adalah bicara mengenai sebuah relativitas yang ironi. Sebuah teorema yang mengatakan bahwa mereka yang terbaiklah yang akan mampu mengarungi terpaan hidup dan menjadi contoh sebuah kesuksesan duniawi, ternyata tidak menjadi suatu yang absolut. Bahwa nasib seseorang tergantung dari usahanya sendiri, bukanlah suatu yang terbantahkan. Akan tetapi, di luar itu tetap ada sebuah tangan di luar kuasa manusia, yang menjadi kunci penentu.

Laskar Pelangi adalah cerita tentang paradoks tersebut. Ia sulit untuk disebut sebagai sebuah karya fiksi, karena ia adalah cerita tentang sebuah kenyataan hidup. Dan rangkaian pengalaman hidup yang penuh dengan paradoks ini yang kemudian mengangkat seorang Andrea Hinata menjadi seorang penulis dengan label best seller.

Sebetulnya memang terlambat untuk menceritakan novel ini saat ini. Ini dikarenakan memang novel ini telah lama beredar dan saat ini tetraloginya sudah mencapai seri keempat, dengan judul Maryamah Karpov. Terus terang saya harus akui dalam beberapa kali kesempatan, saya agak terlambat mengikuti arus opini yang ada. Contoh kasus, serial Harry Potter baru saya mulai baca ketika sudah terbit seri ketiganya, dan segera setelah itu semua seri hingga seri ketujuhnya yang masih Bahasa Inggris ludes terbaca. Novel Ayat-Ayat Cinta karya Kang Abik baru dibaca tahun lalu, yang berarti tertinggal 1 tahunan lebih dari semenjak novel itu booming dan menjadi pembicaraan publik.

Tidak perlu waktu lama untuk mengiyakan bahwa Laskar Pelangi menawarkan sesuatu yang berbeda. Sama seperti ketika Ayat-Ayat Cinta dianggap mewakili nilai-nilai kebenaran yang ada di Islam dalam konteks kekinian, maka Laskar Pelangi mewakili sebuah idealisme kehidupan di tengah laju arus kapitalisme yang ada. Penceritaan akan kehidupan sekelompok anak-anak tidak mampu di sebuah daerah terpencil yang kaya akan kandungan mineral dituturkan secara mengasyikkan di sini.

Menarik ketika menyaksikan bahwa ternyata di daerah terpencil seperti itu, ternyata ada anak-anak seperti Lintang, seorang genius alami yang harus bersepeda 80 kilometer pulang pergi untuk bersekolah. Betapa kita akan terkagum-kagum mendapati bahwa dengan keterbatasan finansial dan jarak sekolahnya, anak ini mampu untuk menghitung perkalian yang sangat rumit dalam hitungan kurang dari sepuluh detik serta saat ia mampu untuk berdebat, akan kesalahan teori Descartes dan Aristoteles tentang warna, menghadapi seorang guru fisika yang menjadi guru teladan tingkat provinsi. Betapa kita lalu akan menangis ketika mendapati bahwa anak jenius ini akhirnya terpaksa harus drop out dari sekolahnya ketika bapaknya yang menjadi tulang punggung keluarga meninggal. Dan paradoks ternyata lebih jauh lagi membawa nuansa satir ketika kurun waktu 12 tahun kemudian membawa pembaca melihat sosok Lintang saat itu.

Sosok lainnya adalah Ikal, yang menjadi sentral dalam Novel ini. Konon sosoknya ini menggambarkan sosok Andrea Hinata yang sebenarnya. Sama seperti Lintang, ia adalah seorang anak miskin yang sempat berdoa untuk tidak mendapatkan pekerjaan yang memaksanya untuk bekerja mulai Subuh. Ironisnya, perjalanan di masa mendatang akan membawa dirinya terpaksa menjadi seorang tenaga sortir surat di kantor pos yang memaksanya untuk mulai bekerja dari Subuh. Sosok yang digambarkan oleh sahabatnya sebagai seorang yang kelelahan mencari identitas, insomnia dan terobsesi dengan satu cinta ini memang digambarkan masih belum menyelesaikan akhir ceritanya. Dan mungkin inilah yang akan menjadi benang merah penyambung dengan rangkaian tetralogi berikutnya, Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov.

Total masih ada 9 personel Laskar Pelangi lainnya yang masing-masing membawa karakter unik, A Kiong, Borek, Syahdan, Kucai, Mahar, Trapani, Sahara, Harun dan yang paling terakhir bergabung, Flo. Penceritaan memikat tentang keseharian mereka di masa remaja yang ditutup dengan perasaan bercampur aduk melihat sosok mereka ketika menginjak usia dua puluhan.

Satu hal yang pasti, karya sastra ini mengajak pembacanya untuk benar-benar mensyukuri nikmat hidup yang kita miliki saat ini, karena masih banyak di luar sana orang-orang yang nasibnya sangat jauh tidak beruntung dari kita. Memang sebuah hal yang biasa kita dengar. Namun, ironisnya bisa jadi sebetulnya kita tidak lebih berhak dari mereka untuk menikmati apa yang kita punya saat ini. Dan sudah sepatutnya kita menghargainya karena belum tentu kita tidak akan pernah kehilangan nikmat itu ke depannya.