
Category : Books
Genre : Literature & Fiction
Author : Habiburrahman El Shirazy
Ini adalah karya terbaru dari sang penulis novel bestseller, Ayat-Ayat Cinta (AAC), Habiburrahman El Shirazy.
Berbeda dari karya-karya sebelumnya, di sini Kang Abik membagi novelnya menjadi 2 buku, yang disebutnya sebagai dwilogi pembangun jiwa. Yah, tidak jauh berbeda dengan AAC yang disebut Kang Abik sebagai sebuah novel pembangun jiwa, di buku ini kembali kita disuguhkan dengan kepiawaian sang pengarang dalam memadukan keromantisan cinta dan keindahan Islam. Selain itu, yang menambah menarik buku ini ialah adanya penggambaran akan kegigihan seorang manusia di dalam menuntut ilmu dan sekaligus berwirausaha.
Yup, wirausaha. Ini akhirnya jadi salah satu pembeda novel ini dari novel-novel Kang Abik sebelumnya. Prof. Laode M. Kamaludduin, PhD, dalam resensinya bahkan menyebut dwilogi ini sebagai “karya sastra berbasis entrepreneurship”. Sosok Khairul Azzam yang menjadi sentral cerita adalah sosok mahasiswa Al Azhar yang selain berkuliah juga berbisnis jualan bakso dan tempe di Mesir, yang dilakukannya untuk bisa menghidupi ibu dan 3 adiknya yang ada di Indonesia. Bahkan, selepas kuliah, di Indonesia selain mengajar di pesantren, ia akhirnya memutuskan untuk merintis bisnis bakso dan fotokopi, tanpa mengindahkan cibiran orang lain yang menganggap hal itu tidak pantas dilakukan oleh seorang lulusan luar negeri.
Secara garis besar, novel ini menceritakan tentang perjalanan hidup Azzam, 28 tahun, yang disebutkan dalam kurun waktu 9 tahun masih belum juga mampu menyelesaikan pendidikan S1-nya di Al Azhar. Sebenarnya hal ini dilakukan oleh Azzam bukan tanpa maksud dan bukan pula karena ketidakmampuannya, hanya saja hal ini terpaksa ia lakukan karena ia masih harus menghidupi ibu dan 3 adiknya yang tinggal di Indonesia dengan cara berjualan tempe dan bakso di kalangan warga Indonesia di Kairo. Sosok yang di tahun pertamanya di Al Azhar memperoleh predikat Jayyid Jiddan (istimewa) ini sengaja tidak meluluskan dirinya selama 9 tahun serta sengaja menunda untuk menikah sampai paling tidak salah satu adiknya bisa lulus dari kuliahnya dan sudah bisa mencari nafkah sendiri.
Kegigihannya dalam berusaha ini akhirnya terbukti mampu mengorbitkan ketiga adiknya itu. Adiknya yang pertama, Husna, sukses lulus sebagai psikolog dan mampu menjadi salah satu penulis terbaik nasional. Adiknya yang kedua, Lia, sukses lulus PGSD dan menjadi guru favorit di SDIT Al Kautsar Solo. Sementara adiknya yang masih berusia 9 tahun, Sarah, masih menyantren di Pesantren Kudus, dan saat itu sudah berhasil menghafal hingga 5 juz.
Selain Azzam, di novel ini Kang Abik menampilkan beberapa sosok lain dengan karakternya yang kuat. Ada Eliana, bintang film cemerlang lulusan Perancis yang pernah berdebat dengan Sekjen Liga Arab dengan bahasa Inggris, yang digambarkan sempat ingin menghadiahkan “French Kiss” kepada Azzam. Ada Anna Althafunnisa, putri pengasuh ponpes di Klaten, mahasiswi S2 Syariah, sosok yang pertama kali coba dilamar oleh Azzam. Ada Furqan, mantan Ketua Umum PPMI dan kandidat MA dari Cairo University, sahabat Azzam, yang disebutkan telah melamar Anna, akan tetapi selepas 3 bulan masih belum juga mendapatkan jawaban. Selain itu, ada juga beberapa sahabat-sahabat Azzam di Kairo, seperti Fadhil, Hafez, Ali dan Nanang, yang muncul dengan permasalahannya masing-masing.
Dibandingkan Ayat-Ayat Cinta, novel Ketika Cinta Bertasbih ini memiliki jalinan cerita yang lebih kompleks, dengan permasalahan-permasalahan yang bertebaran di 2 latar berbeda, Mesir dan Indonesia. Bila buku pertama menceritakan kehidupan Azzam di Mesir, maka di buku kedua, pusat cerita akan berpindah ke Desa Sraten, Solo, kampung halaman Azzam serta Desa Wangen, Klaten, kampung halaman Anna. Penggambaran ceritanya khas Kang Abik, tema cinta dengan sedikit bumbu konspirasi di Mesir. Di salah satu frame cerita, bahkan sosok Furqan sempat berurusan dengan salah satu agen Mossad, Israel. Urusan inilah yang kemudian hari benar-benar mengubah akhir cerita dari Dwilogi ini secara dramatis, dan mungkin untuk beberapa pembacanya, akan menimbulkan kesan tidak adil untuk salah seorang tokohnya.
Walaupun tema sentralnya tetap tentang cinta, banyak kutipan-kutipan pemberi motivasi yang muncul di novel ini. Salah satunya ialah kutipan nasehat dari seorang Syaikh dalam sebuah Khutbah Jumat, “Kenapa Allah mengaruniakan kepada kita dua tangan, dua kaki, dua mata, dua telinga, jutaan syaraf otak, tapi hanya mengaruniakan kita satu mulut saja? Jawabnya, karena Allah menginginkan kita untuk lebih banyak bekerja, daripada bicara. Orang-orang besar sepanjang sejarah adalah mereka yang lebih banyak bekerja daripada bicara!”
Atau kutipan yang muncul di penutup novel, sebuah ceramah Azzam kepada jamaah pesantren, ”Orang-orang yang dulu hidup memprihatinkan ternyata sampai sekarang tidak berubah. Kenapa tidak berubah? Jawabnya karena mereka tidak mau berubah. Kenapa tidak mau berubah? Jawabnya karena mereka tidak tahu bahwa mereka harus berubah. Bahkan kalau mereka tahu mereka harus berubah, mereka tidak tahu bagaimana caranya berubah. Sebab mereka telah terbiasa hidup pasrah. Hidup tanpa rasa berdaya dalam keluh kesah.”
Selamat membaca.

No comments:
Post a Comment