Saturday, May 2, 2009

Laskar Pelangi


Category : Books
Genre : Literature & Fiction
Author : Andrea Hirata

Bicara masalah hidup, adalah bicara mengenai sebuah relativitas yang ironi. Sebuah teorema yang mengatakan bahwa mereka yang terbaiklah yang akan mampu mengarungi terpaan hidup dan menjadi contoh sebuah kesuksesan duniawi, ternyata tidak menjadi suatu yang absolut. Bahwa nasib seseorang tergantung dari usahanya sendiri, bukanlah suatu yang terbantahkan. Akan tetapi, di luar itu tetap ada sebuah tangan di luar kuasa manusia, yang menjadi kunci penentu.

Laskar Pelangi adalah cerita tentang paradoks tersebut. Ia sulit untuk disebut sebagai sebuah karya fiksi, karena ia adalah cerita tentang sebuah kenyataan hidup. Dan rangkaian pengalaman hidup yang penuh dengan paradoks ini yang kemudian mengangkat seorang Andrea Hinata menjadi seorang penulis dengan label best seller.

Sebetulnya memang terlambat untuk menceritakan novel ini saat ini. Ini dikarenakan memang novel ini telah lama beredar dan saat ini tetraloginya sudah mencapai seri keempat, dengan judul Maryamah Karpov. Terus terang saya harus akui dalam beberapa kali kesempatan, saya agak terlambat mengikuti arus opini yang ada. Contoh kasus, serial Harry Potter baru saya mulai baca ketika sudah terbit seri ketiganya, dan segera setelah itu semua seri hingga seri ketujuhnya yang masih Bahasa Inggris ludes terbaca. Novel Ayat-Ayat Cinta karya Kang Abik baru dibaca tahun lalu, yang berarti tertinggal 1 tahunan lebih dari semenjak novel itu booming dan menjadi pembicaraan publik.

Tidak perlu waktu lama untuk mengiyakan bahwa Laskar Pelangi menawarkan sesuatu yang berbeda. Sama seperti ketika Ayat-Ayat Cinta dianggap mewakili nilai-nilai kebenaran yang ada di Islam dalam konteks kekinian, maka Laskar Pelangi mewakili sebuah idealisme kehidupan di tengah laju arus kapitalisme yang ada. Penceritaan akan kehidupan sekelompok anak-anak tidak mampu di sebuah daerah terpencil yang kaya akan kandungan mineral dituturkan secara mengasyikkan di sini.

Menarik ketika menyaksikan bahwa ternyata di daerah terpencil seperti itu, ternyata ada anak-anak seperti Lintang, seorang genius alami yang harus bersepeda 80 kilometer pulang pergi untuk bersekolah. Betapa kita akan terkagum-kagum mendapati bahwa dengan keterbatasan finansial dan jarak sekolahnya, anak ini mampu untuk menghitung perkalian yang sangat rumit dalam hitungan kurang dari sepuluh detik serta saat ia mampu untuk berdebat, akan kesalahan teori Descartes dan Aristoteles tentang warna, menghadapi seorang guru fisika yang menjadi guru teladan tingkat provinsi. Betapa kita lalu akan menangis ketika mendapati bahwa anak jenius ini akhirnya terpaksa harus drop out dari sekolahnya ketika bapaknya yang menjadi tulang punggung keluarga meninggal. Dan paradoks ternyata lebih jauh lagi membawa nuansa satir ketika kurun waktu 12 tahun kemudian membawa pembaca melihat sosok Lintang saat itu.

Sosok lainnya adalah Ikal, yang menjadi sentral dalam Novel ini. Konon sosoknya ini menggambarkan sosok Andrea Hinata yang sebenarnya. Sama seperti Lintang, ia adalah seorang anak miskin yang sempat berdoa untuk tidak mendapatkan pekerjaan yang memaksanya untuk bekerja mulai Subuh. Ironisnya, perjalanan di masa mendatang akan membawa dirinya terpaksa menjadi seorang tenaga sortir surat di kantor pos yang memaksanya untuk mulai bekerja dari Subuh. Sosok yang digambarkan oleh sahabatnya sebagai seorang yang kelelahan mencari identitas, insomnia dan terobsesi dengan satu cinta ini memang digambarkan masih belum menyelesaikan akhir ceritanya. Dan mungkin inilah yang akan menjadi benang merah penyambung dengan rangkaian tetralogi berikutnya, Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov.

Total masih ada 9 personel Laskar Pelangi lainnya yang masing-masing membawa karakter unik, A Kiong, Borek, Syahdan, Kucai, Mahar, Trapani, Sahara, Harun dan yang paling terakhir bergabung, Flo. Penceritaan memikat tentang keseharian mereka di masa remaja yang ditutup dengan perasaan bercampur aduk melihat sosok mereka ketika menginjak usia dua puluhan.

Satu hal yang pasti, karya sastra ini mengajak pembacanya untuk benar-benar mensyukuri nikmat hidup yang kita miliki saat ini, karena masih banyak di luar sana orang-orang yang nasibnya sangat jauh tidak beruntung dari kita. Memang sebuah hal yang biasa kita dengar. Namun, ironisnya bisa jadi sebetulnya kita tidak lebih berhak dari mereka untuk menikmati apa yang kita punya saat ini. Dan sudah sepatutnya kita menghargainya karena belum tentu kita tidak akan pernah kehilangan nikmat itu ke depannya.

No comments:

Post a Comment